Curhat.

Kukira manusia bisa mencintai siapa aja asal ‘terbiasa’ atau kamu bisa asik texting all day long dengan siapa aja. Naif amat.

Aku ni ya dulu suka mikir masalah hati mah gampang banget, kalau uda lama-lama berbaur paling ya jadi terbiasa. Ntar kalau dideketin terus ya luluh juga.

Sekarang baru nyadar, kita (atau mungkin aku aja) ga bisa dekat dengan siapa aja, pasti ada faktor x nya. Misalnya dalam hal texting, apalagi aku anaknya kaku banget kalau masalah texting gini, jawab paling seadanya. Kalau ngerasa udah gatau mau balas apa yauda selesai. Pas interaksi sosial juga, aku lebih hati-hati sama orang yang baru dikenal.

Beda kalau emang udah nyaman. Mau texting sampai ketiduran terus kebangun gegara getaran hp bisa-bisa aja. Atau kalau udah kelakuan aneh-aneh pas di depan orang.

Dalam hati suka bilang “yauda gapapa coba aja dulu”. Tapi ya ga bisa. Rasanya capek maksain diri buat ngelakuin hal yang ga mau dilakuin.

Plastik dan Kertas

Awal mulanya, plastik diciptain buat mengantiin kertas. Banyaknya penggunaan kertas menyebabkan penebangan pohon secara masif.

Kertas diganti dengan plastik karena plastik bisa digunain berkali-kali, juga mudah didaur ulang, beda sama kertas yang gampang rusak dan cuma dipakai sekali.

Kita sama-sama lihat sampah plastik ada di mana-mana. Selaras dengan banyaknya produk dengan kemasan plastik.

Ini disebabkan plastik yang harusnya dipakai berkali-kali dibuang setelah sekali pakai.

Plastik atau kertas punya potensi sama mencemari lingkungan saat digunakan dengan berlebihan. Jadi apapun itu, jangan dipakai sekali aja, kalau masih ada ya dipakai berkali-kali.

Bawa containers sama botol minum sebisa mungkin.

Kita yang sudah terbiasa dengan hal instan pasti kerepotan buat bawa-bawa, ngerasa berat dan lalala.

Tapi ya gitu, kan demi aku, kamu, dia dan kita semua juga.

Alasan

Dulu suka mikir gini, kayaknya enak hidup sendiri, apa-apa lakuin sendiri, ga usah minta tolong orang lain. Kalau bisa tinggal di gua. Atau punya orang tua yang ga nerima aku terus dikurung, ga dibolehin keluar.

Interaksi sama orang lain itu ga lebih dari hal membosankan yang menyakitkan. Antara tersakiti atau disakiti.

Tau kan ribetnya interaksi sesama manusia?

Entah aku tersingung untuk masalah sepele hanya karna orang lain ngelakuin sesuatu yang ‘menurutku’ ga seharusnya.

Atau aku yang nyakitin orang lain saat tanpa sengaja ngucapin kalimat yang ga seharusnya.

Kita bisa kok ngejelasin hal-hal, agar orang lain ngerti. Tapi disaat yang sama kita juga nganggap penjelasan sebagai alasan.

Dibanyak waktu kita hanya ingin membiarkan kesalahpahaman. Mungkin kita sangat ingin mempercayai kutipan ini ( “waktu akan menjawab segalanya” ). Atau kita butuh asupan drama.

Walaupun sebenernya bukan itu yang ingin kubahas.

Tapi hal ini:

Aku sadar, aku ga bisa tanpa orang lain. Hari ini saja aku butuh digenggam tangannya, aku butuh disapa sekedar “kamu kabarnya gimana?”, aku butuh didorong agar maju dan lainnya.

Aku juga sedang tidak ingin memberi penjelasan seberapapun sulit hari-hari, aku hanya ingin dibersamai.

Phlegmatis Melankolis

Aku phlegmatis melankolis.

Si pengamat yang mikir

Dua nenek yang tinggal dibelakang mesjid selalu jalan sama-sama dengan pakaian sama setiap hari, yang satu dengan konsep biru dan yang satu konsep merah muda, menutup setengah wajah mereka dengan selendang.

Abang ojol yang makan bubur ayam pas siang atau sore, mungkin ini kedai orang tuanya.

Wanita paruh baya yang jalan kaki lewat jembatan dengan wajah kusut dan bibir merahnya. Suatu malam, dia jalan tanpa alas kaki.

Kakek yang jalan kaki cukup jauh untuk beli sarapan berambut keriting dan tipis. Terlihat kesulitan berjalan tapi tidak kesakitan.

Wanita paruh baya lainnya yang menjual roti isi akan sampai ditempat kerjaku jam setengah sebelas pagi. Rotinya lembut dan enak. Belakangan dia sudah tak terlihat.

Kadang aku ngerasa seperti mengenal mereka.

Jalan

Kamu ga perlu berjalan lambat hanya untuk menyamai langkah

Karna aku ga pernah berlari untuk mengejar

Percaya deh, secepat apapun kamu berjalan, sekecil apapun langkahku kita akan di jalan yang sama selama pemilik semesta menginginkannya

Iya aku ga pernah berusaha keras

Hari itu aku paham, hal kecil terjadi untuk menghalangi. Aku ga akan keras kepala, bahkan aku ga berusaha menjelaskan, kamu juga seperti tidak ingin tahu

Ah, ternyata kamu sudah berada di jalan lain

Ngomong-ngomong aku masih di jalan yang sama. Aku tahu kamu tidak pernah lupa jalan ini.

Hug Me

Few times in life.

Days were cloudy. Soul was worn out. Body was in pain

Happiness came when it’s finally raining. Universe doesn’t know me well. I don’t even know me

Tonight sky is extremely dark. It’s warm like hot cappuccino in the morning

I am having a rough day. Hug me